Kisah Si Penunggang Tong Setan


Dengar namanya sudah membuat penasaran. Tapi jika dilihat tidak seseram namanya. Hanya jantung berdetak kencang dan kaki bergetar.
Malam itu belum larut benar. Matahari baru saja kembali ke peraduan. Di sebuah pasar malam, di dalam tong kayu berukuran besar, seorang pria berkulit gelap terlihat serius mengamati motornya. Di tengah suara menderu, sesekali pria itu menarik tinggi tarikan gas motornya. Mendengar dengan seksama, kalau-kalau motor dua tak itu tidak layak tampil malam itu. “Ini sangat penting. Kalau motor mati di tengah papan, bisa kacau,” ujar pria itu dengan mimik serius.
Satu persatu penonton mulai menapaki tangga tong kayu. Tua, muda, pria dan perempuan, tak ketinggalan anak-anak, dengan rasa penasaran melihat ke bawah tong kayu yang biasa disebut dengan Tong Setan. Tong yang terbuat dari kayu. Dengan tinggi 5 meter, garis tengah atas sepanjang 10 meter dan bagian bawah 5,5 meter. Bentuknya seperti ember besar dengan rangka besi di sekelilingnya. Tentu saja yamg membuat bukan setan. Karena ada pintu kecil seukuran 1 meter untuk jalan masuk bagi Andi Ramlan Simorangkir, pengendara motor Tong Setan.
Tak mau menunggu lama, Andi mulai bersiap. Menaiki motornya, menarik pedal gas dan mulai beraksi. Sejurus kemudian, Andi sudah merayap di dinding Tong Setan. Raungan motor type RX King itu beradu dengan suara hentakan papan yang memekakkan telinga. Berputar-putar mengelilingi tong, melawan gravitasi bumi. Tanpa rasa takut, Andi melakukan atraksi maut. Mengendara zig-zag,  naik dan turun sambil tangannya melambai ke arah penonton.
Beruntung, Andi melakukannya di dalam Tong Setan. Kalau saja di jalan raya, pasti sudah berurusan dengan Polisi Lalulintas. Pasalnya, pria asal Medan ini melakukannya tanpa alat pengaman apapun, termasuk helm pelindung kepala.    Aksinya tak sampai disitu, sambil melepas tangan, Andi berdiri menyambar uang saweran di tangan penonton.
Semakin banyak penonton yang melambaikan saweran, ayah tiga anak ini semakin bersemangat. Diterangi dua buah lampu pijar 70 watt, atraksinya semakin menggila. Motor digeber hingga satu meter mendekati garis batas penonton yang bercat merah. Sebagian penonton bergidik ngeri, khawatir disambar motor. Sedangkan penonton yang kebanyakan pria, bertepuk tangan memberi semangat.
Dua puluh menit sudah berlalu, Andi bersiap menyudahi permainan. Mengendurkan tarikan gas, motor berputar pelan dan mendarat dengan selamat. Aksi malam itu ditutup dengan lambaian tangan ke arah penonton.
Tubuhnya basah oleh keringat. Sambil menenggak air mineral dalam kemasan botol, pria yang baru saja bermain dengan maut ini menuturkan kisahnya.
Andi mulai mengenal permainan ini pada tahun 1980-an, sejak duduk di bangku SMP di Medan, Sumatera Utara. “Saya tinggal di kawasan jalan Gatot Subroto, Medan. Dekat pasar malam Medan Fair,” ujar Andi menyebutkan lokasi pasar malam di Medan.
Kedekatan tempat tinggalnya itu menimbulkan ketertarikannya dengan permainan Tong Setan. Berawal dari melihat, lambat laun akhirnya Andi memutuskan untuk mempelajari permainan ini. Di bawah instruksi Robert, pengendara Tong Setan sebelumnya, ia belajar cara memacu sepeda motor di atas papan dengan kemiringan 45 derajat.
“Kalau jatuh pastilah. Siapapun belajar, pertama kali harus jatuh,” ujarnya menceritakan pengalamannya pertama kali bermain Tong Setan.
Pria berperawakan sedang ini, mengaku sama sekali tidak ada unsur magis di dalam permainan Tong Setan. Kekeliruan nama, menyebabkan orang salah mengartikan. “Nama sebenarnya bukan Tong Setan, tapi Tong Stand. Mungkin karena sekilas, kedengarannya seperti Tong Setan. Siapapun bisa melakukannya,” ujar Andi lantas tersenyum.
Menurutnya, Tong Setan atau biasa juga disebut Roda Gila murni menganut ilmu Fisika. Seperti kelereng yang diputar dengan kecepatan konstan di dalam botol. Keseimbangan, kekuatan fisik dan sedikit pemahaman tentang sepeda motor jadi syarat mutlak untuk mempelajari permainan ini. “Yang paling berat menjaga keseimbangan. Karena itu, kecepatan motor pasti berbeda ketika naik dan turun,” bebernya.
“Tapi kalau takut ketinggian, tak bisa bermain di sini,” ujarnya lagi.
Derajat kemiringan dan lebar tong juga mempengaruhi tingkat kesulitan permainan ini. “Di Medan saya pernah main dalam tong vertikal. Rumitnya bukan main. Baru beberapa kali putaran, pinggang bisa kaku,” ujarnya.
Selama tujuh tahun menekuni pekerjaan ini, tentu banyak pengalaman yang ditemui. Ditambah lagi, keahlian Andi memacu motor hanya di Tong Setan yang identik dengan pasar malam. Hiburan rakyat yang kerap berpindah tempat dari satu daerah ke daerah lain.
Sambil menyalakan rokok kreteknya Andi, mencoba mengingat pengalamannya yang paling berkesan. “Di Aceh sangat berkesan. Tahunnya saya lupa. Tapi ketika rombongan pasar malam datang, kami disambut antusias. Masyarakatnya ramah sekali,” ujar Andi sambil mengepulkan asap rokoknya.
Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Kebalikannya dengan di Aceh, di Bagan Batu, Andi mendapat musibah.
“Orang-orang tua di sana mengira Tong Setan ini mengandung unsur sihir. Jadi kami dikerjai. Ketika bermain dengan tiga motor, tiba-tiba lampu mati. Suasana gelap, dan kamipun mulai berjatuhan seperti nyamuk. Beruntung tak ada luka serius,” ujarnya lantas tertawa.
“Setelah pihak pasar malam meminta maaf dan menjelaskan, barulah para orangtua mengerti dan kami diizinkan kembali bermain,” ujar warga Kavling Baru Batuaji ini.
Saat ini Andi tengah bermain di Simpang Frengki. Lokasinya tak terlalu luas. Hanya setengah lapangan sepakbola. Ini kali kedua rombongan pasar malam yang dinaungi CV Mahkota Group menggelarnya di tempat yang sama. Sejak bergabung tahun 1998 silam, Andi telah bermain di beberapa lokasi di Batam. Bahkan hingga Tanjungbatu, Tanjungbalai Karimun dan Tanjungpinang.
“Yang paling ramai di Seraya atas. Setiap hari pengunjungnya ramai. Kalau sudah begitu, permainan kita buat semakin lama dan lebih seru,” ujarnya.
Dalam aksinya, Andi selalu ber “solo karir”. Hanya ada Manurung,
satu-satunya asisten yang dipersiapkan untuk pengendara motor Tong Setan. Menurut Andi, sulitnya mencari pemain baru menyebabkan ia tetap bertahan.
“Kalaupun ada yang tertarik. Biasanya cuma iseng. Sekedar mencoba. Kalau yang seperti ini, saya enggan menanggapinya,” katanya.
Pasar malam tanpa Tong Setan ibarat nasi tanpa garam. Ungkapan inilah yang membuat suami Rosida ini berat meninggalkan Tong Setan.
Sumber Batam Pos
“Sebenarnya istri kurang setuju. Alasannya berbahaya. Tapi mau gimana lagi. Namanya hidup ya harus kerja,” tegasnya.
“Saya pernah bekerja di salah satu perusahaan di Sekupang. Tapi cuma kontrak 3 bulan. Setelah itu tak ada perpanjangan kontrak. Akhirnya kembali lagi ke pasar malam. Sekarang semua sistem kontrak. Sekolah pun pas-pasan. Manalah mungkin kerja menetap,” katanya lagi.
Tidak seperti pertunjukkan sebelumnya, kali ini pengunjung lebih ramai. Dari bawah terlihat puluhan pengunjung menunggu tak sabar. Suara motor meraung keras bersama asap yang mengepul ke udara.
Lewat isyarat tangan, ayah Galang (11), Adinda (6) dan Randy (2) itu berpamitan untuk memasuki arena. Pintu kecil tertutup rapat. Yang terdengar hanya raungan motor memekakkan telinga. Sang Penunggang telah bersiap, melafalkan doa berharap asa, bersama maut, dalam Tong Setan yang mulai berlumut. 

Sumber : Batam Pos







0 komentar:

Poskan Komentar